Kenali Gejala Awal Difteri


Opini: Kenali Gejala Awal Difteri


Corynebacterium diphteriae kini menjadi trending topik di sosial media. Pasalnya, bakteri penyebab penyakit difteri ini telah menelan banyak korban khususnya pada anak-anak. Gejalanya tergolong sepele, namun jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat mengancam jiwa seseorang yang berujung pada kematian. Namun begitu, difteri termasuk  salah satu penyakit yang masih dapat dicegah melalui pemberian vaksin atau imunisasi.

Difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Yakni, sebelum usia satu tahun, anak diwajibkan mendapat tiga kali imunisasi DTP.

Sejumlah cara penularan yang perlu kita waspadai seperti, terhirupnya percikan ludah penderita di udara, saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan paling umum terjadi. Yang kedua, pemakaian handuk dan gelas minum bersama. Ketiga, sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal dengan sanitasi lingkungan yang buruk dan padat penduduk.

Mengenali gejala awal difteri akan membuat kita sedini mungkin melakukan penanganan tepat pada penderita. Oleh karenanya, kita perlu mengetahui gejala-gejala yang mengindikasikan terjangkitnya penyakit difteri. Diantara gejala-gejala tersebut ialah, seluruh tubuh terasa demam, kelelahan, malaise atau panas dingin. Selanjutnya, kulit terdapat ruam atau ulkus, dan wajah terlihat pucat.

Pada tenggorokkan, indikasinya adalah sulit menelan makanan, suara menjadi serak, dan batuk. Pada faring atau laring, penderita mengalami bersin-bersin dan pilek. Pilek yang pada awalnya cair, tapi lama kelamaan menjadi kental dan kadang bercampur darah. Kadang-kadang penderita juga mengalami pembengkakkan getah bening pada leher. Bersegeralah mengunjungi dokter ketika kondisi tubuh menunjukkan gejala difteri.

Jenis pemeriksaan pada umumnya, dokter akan menanyakan seputar gejala atau keluhan yang dialami pasien. Lalu menyuruh pasien membuka mulutnya dan melihat kondisi mulut pasien dengan menggunakan senter. Jika gejala tersebut terdeteksi, maka dokter akan memberikan obat berupa antibiotik sebagai penangkal dan penawar racun yang ditimbulkan oleh corynebacterium diphteriae. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan swab atau mengambil sempel ludah pasien untuk uji labolatorium. Setelah itu, dokter akan memberikan pengobatan yang tepat agar komplikasi tidak terjadi.

Cara mencegah difteri diantaranya, yang pertama, dengan memberikan imunisasi. Seperti, imunisasi DPT/HB pada bayi ketika usia mereka mencapai 2, 3 dan 4 bulan. Lalu memberikan imunisasi DT pada anak SD ketika mereka baru masuk kelas satu. Dan memberikan vaksin DT kepada anak yang telah berumur Sembilan tahun. Kedua, dengan menghindari kontak secara langsung dengan penderita. Ketiga, menjaga kebersihan tubuh dan stamina dengan rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Keempat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Kelima, menjaga tempat tinggal agar tetap bersih dan rapi. Dan Keenam yang paling mendasar adalah selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Masih mau terjangkit difteri??

 (Tulisan ini pernah dimuat di Media Indonesia berjudul "Kenali Gejala Awal" pada 26 Desember 2017)



Siti Syarah Ulfa
Mahasiswi KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rangkuman Eusi Buku Kasambet

Pengalaman Magang di TVRI Jabar dan Banten

DKM Manhajuth Thullab: Masyarakat Sekitar Kurang Partisipatif Terhadap Kajian Umum