Rinduku Aku Komunikasikan Dengan Tuhanku
Rinduku Aku Komunikasikan dengan Tuhanku
Berawal
dari sinar matahari yang membawa energi panas, menyebabkan adanya proses
evaporasi ke atmosfer. Dalam proses evaporasi, air yang berada di bumi seperti di
laut, danau, sungai serta badan air lainnya menguap karena panas tersebut. Lalu
menghasilkan uap-uap air. Uap-uap air terangkat ke udara dan mengalami proses
kondensasi.
Dalam
proses kondensasi, uap-uap air berubah menjadi embun yang diakibatkan oleh suhu
di sekitar uap air lebih rendah daripada titik embun air. Suhu udara yang
semakin tinggi membuat titik-titik dari embun semakin banyak dan memadat, lalu
membentuk menjadi awan.
Adanya
perbedaan tekanan udara di langit menyebabkan pergerakan udara atau yang biasa
disebut angin. Angin menggerakkan awan yang membawa butir-butir air menuju
tempat dengan suhu yang lebih rendah. Awan-awan yang terkumpul bergabung
menjadi awan besar yang berwarna kelabu, proses ini dinamakan koalensi.
Ketika
kondisi awan sudah jenuh dan tidak sanggup menampung air karena tertarik gaya
gravitasi bumi, butir-butir air pun berjatuhan menjadi hujan. Ketika air hujan
mulai jatuh ke daratan, tidak semua air jatuh sampai ke permukaan. Ternyata ada
sebagian air yang menguap kembali keatas menuju awan. Air menembus lapisan
atmosfer yang lebih hangat dibawahnya, maka ada beberapa butir air yang
menguap. Selama air membuat kondisi awan jenuh, maka hujan akan terus
berlangsung.
Nyatanya,
awan jenuh masih menyimpan bobot air dan menurunkan curah hujan yang begitu
deras dihalaman depan Masjid Manhajuth Thullab. Membasahi setiap kotak paping
dan terserap oleh tanah. Air yang terlalu deras tak terserap cepat, hingga
mengalirkannya hingga keluar pagar halaman masjid.
Ketika
itu, merebot masjid sibuk menghamparkan karpet hijau bak padang rumput yang sejuk
dipandang. Muadzin bersiap menyalakan mikrofon lalu mengumandangkan adzan Sholat
Ashar. Ya, seruan beribadah teruntuk kaum muslimin tepatnya disekitar Kota
Bandung.
Suara
merdu muadzin gaya makkah itu, kini hinggap ditelinga sang pemuda tampan yang tengah
sibuk dengan tugas kuliahnya yang tak kunjung rampung hingga menjelang waktu
ashar ini. Ia pun bergegas menuju jamban dan berwudhu melepas semua najis dan
melebur setiap dosa-dosa dan menghempas kemunafikkan yang di miliki. Meski ia
dipandang sebagai orang yang tak pernah melakukan kesalahan. Tapi jauh didalam
lubuk hatinya, ia tidak merasa lebih baik dari oranglain disekitarnya. Ia dihantui
rasa bersalah jika ia tertinggal shalat berjamaah di masjid selama lima waktu yang
terus berulang ulang itu.
Muadzin
pun sampai pada kumandang iqomahnya, beruntung si pemuda ini telah sampai
sebelum Imam melafadzkan takbiratul ihram. Nafas lega ia hirup
sedalam-dalamnya, lalu ia melafadzkan niat sholat dan larut dalam kekhusyu’an
menyembah Tuhannya.
Inilah
yang ia inginkan, bisa beribadah dengan tenang tanpa gangguan. Melepaskan hiruk
pikuk duniawi yang ia jalani. “Oh Tuhan, tetapkan selalu hati ini pada
agama-Mu” syukur pun terbesit dihati pemuda ini.
“Mungkin
inilah gunanya merapatkan barisan dalam sholat, menebas berbagai macam
kewas-wasan yang setan perbuat. Memperkuat tali silaturahim umat yang kini
terjangkit penyakit sosial individualis. Dan tentunya dapat merubah karakter
mazmumah[1]
menjadi mahmudah[2]”.
Renung si pemuda.
Setelah
salam dilanjutkan berdzikir dan berdo’a. Salam-salaman dari baris terdepan
hingga baris belakang pun mulai menggemakan sholawat di masjid ini.
Sang
pemuda berjalan menuju pintu masjid. Tiba-tiba matanya melihat pemandangan
indah yang tak pernah ia lihat sebelumnya, merasuk qalbu nya hingga
menghentikan langkahnya.
“Maa
Syaa Allaah, inikah yang dinamakan bidadari tanpa sayap itu?” dihati ia
bergumam.
Ternyata
diseberang sana ada wanita muslimah berkerudung biru menjuntai tengah menunggu
DKM untuk diwawancarai. Sinyal pun tertangkap oleh wanita itu hingga membuatnya
spontan melirik pada pemuda yang sedari tadi tidak mengedipkan matanya.
Keduanyapun cepat-cepat menundukkan pandangannya lalu beristighfar.
“Astaghfirullaah..
tidak halal” sahut hati sanubari si pemuda.
DKM
pun menghampiri wanita muslimah dan mempersilahkan duduk lalu bertanya apa yang
hendak ia wawancarakan disesi bulan kedua setelah pembuatan berita pertama
tentang masjid didepan rumahnya itu.
Pemuda
pun bergegas menuju kostan yang ia tinggali selama tiga semester ia kuliah.
Hatinya sempat bertanya-tamya siapa wanita tadi, namun ia tak menghiraukannya,
mengingat ia ingin segera menuntaskan tugas kuliah yang membuatnya tidak tidur
satu hari kebelakang itu.
Waktu
isya’pun tiba,
Kini
tugasnya telah rampung semua. Ia pun lekas menunaikan shalat Isya’ berjamaah di
Masjid, dilanjutkan shalat sunnah rawatib dan ghairu rawatib. Sepulang ke kost,
ia membuka lembaran Al-Qur’an, merujuk pada satu surah bernama Al-Mulk yang
menjadi ritual rutinnya sebelum tidur. Ia selalu teringat pesan guru ngajinya
semasa ia kecil, bahwa fadhilah membaca surah Al-Mulk adalah mempermudah menjawab
pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur.
Pagi
pun tiba..
Namun
ada yang berbeda dengan suasana hari ini. Saad sang pemuda tampan itu sedikit
mengurugkan langkahnya. Udara diluar sangat dingin sekali, angin bertiup sangat
kencang membawa butiran-butiran air hasil kondensasi. Ia baru teringat, bahwa
negaranya kini dilanda siklon tropis dahlia.
Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa siklon tropis
dahlia masih akan berlangsung hingga dua hari kedepan dengan kekuatan yang
terus melemah. Siklon sebenarnya berpusat di samudera Hindia, Barat daya
Banten, akan tetapi tetap berimbas hingga ke beberapa daerah di Indonesia,
seperti di pesisir Barat Bengkulu hingga lampung, Banten dan Jawa Barat bagian
Selatan, yang berdampak padapeningkatan hujan lebat, tinggi gelombang, angin
kencang dengan kecepatan lebih dari 36 km per jam.
Beruntung
daerahnya masih dikategorikan daerah dengan intensitas hujan sedang hingga
lebat. Meskipun begitu Saad harus ekstra waspada tatkala angin bertiup kencang.
Mengingat tubuhnya yang kurus, membuatnya sesekali terhempas beberapa
sentimeter oleh angin.
Haripun
berlalu,
Saad
menyempatkan waktu untuk hadir di Masjid Manhajuth Thullab untuk mengikuti
kajian bulanan. Ia rasa ini sangat langka, mengingat masjid tersebut jarang
membuka pengajian untuk umum dikarenakan kegiatan masjid difokuskan untuk
kegiatan Pondok Pesantren Mandiri Mahasiswa. Namun apa daya dengan Saad, si
Pemuda yang hanya bisa kuliah saja tanpa diizinkan mondok dipesantren layaknya
teman sebayanya.
Setelah
beberapa menit ia menyaksikan lalu mencatat pesan-pesan penting yang
disampaikan Ustadz. Ustadz pun berhenti sejenak mempersilahkan seseorang yang
hadir telat 15 menit dari kajian.
Sontak
saja hati si Pemuda terkejut, memastikan ketidakpercayaan wanita itu akan hadir
kembali di sini. Di lokasi yang sama. Matanya yang melotot sejenak, ia tarik
kembali dan secepat kilat menginsafkan diri.
Sang
Ustadz pun menyindir secara tidak langsung wanita yang telat hadir itu, karena
waktu Shalat Dzhuhur hanya beberapa menit lagi dan kajian pun akan segera
berakhir. Pipi memerah dari raut wajah wanita itu terlihat jelas, namun ia
bersikeras merekam sedapat mungkin ceramah sang Ustadz. Beruntung ia hadir pada
sesi Tanya Jawab antara ustadz dan para jama’ah.
Alarm
masjid pun menyala, tanda masuknya waktu Dzhuhur, ustadz pun segera menutup
pertemuan dengan doa kafaratul majelis. Jama’ah yang berhadats kecil pun segera
pergi berwudhu’ kembali. Iqomah pun dikumandangkan, saatnya merapatkan barisan
bagi ma’mum. Didirikanlah shalat dhuhur.
Usai
shalat dhuhur, wanita muslimah itu duduk diteras depan masjid didampingi
temannya.
“Sepertinya
dia menunggu seseorang, eh astaghfirullaah, biarin kek itu bukan urusanmu Saad!.
Perhatikan saja iman didalam hatimu. Astaghfirullaah.. ampuni aku Yaa Rabb”
gumam si pemuda dalam hati.
Pemuda
melihat seorang paru baya menghampiri wanita itu, ternyata tak lain dia adalah
pak Amin, DKM Masjid Manhajuth Thullab ini.
“Lala
yah? Kok telat hadirnya? Padahal kajiannya seru loh”. Kata pak Amin.
Wanita
itu pun menjelaskan sesuatu kepada Bapak DKM tersebut. Hingga terlihat
kehangatan dan senyuman diantara kedua belah pihak, membuat si pemuda juga ikut
merasakan kehangatan itu dari jauh dan tersenyum.
“Oh
namanya Lala ya. Eh udah jam satu nih. Duh telat deh masuk matkul”. Kata Saad.
Ada
yang berbeda dengan suasana hati Saad hari ini. Entah mengapa serasa berbunga-bunga.
Hingga setiap orang yang ia jumpai di jalan ia berikan senyuman merekah,
sekalipun kepada orang yang tidak ia kenali.
Teman-teman
mahasiswa yang lain pun merasa ada hal yang ganjil dari temannya ini, mereka
mencoba memastikan keadaannya dengan meraba keningnya lalu mendorong pipinya
hingga kepala Saad tertengok ke kanan.
“
Kamu gak kenapa kenapa kan akhi?. Sudah siap kah presentasi hari ini?”. Kata
Eri.
“In
Syaa Allah Siap. Kalau keceletot tolong bantu bicara ya. Haha!”. Jawab Saad.
“Siip.
Nih makalahnya! kamu yang berikan ke Dosen ya!”. Lanjut Eri.
“Oke!”.
Sahut Saad.
Presentasi
pun dimulai, Saad larut dalam diskusi didalamnya, semangat yang ia pegang
tertular pada audiens yang sedari tadi menyaksikan pemaparannya, hingga
membuahkan acungan pertanyaan dari banyak audiens, namun ia membatasinya
dikarenakan waktu yang tidak memungkinkan, merujuk waktu pulang.
“Alhamdulillaah.
Kelar juga presentasi hari ini. Mudah-mudahan kedepannya bisa lebih baik lagi
dari presentasi sekarang, Aaamiiin..” . Do’a Saad.
Seketika
pandangan Saad beralih pada wanita yang bercakap dengan Pak DKM kemarin, kini
ia bercakap dengan dua orang perempuan dan satu laki-laki,
“Lala!”
Kata Saad pelan.
Ia
pun bergegas menghampiri, namun berpapasan dengan leburan mahasiswa yang baru
keluar kelas. Lala pun berlalu. Saad hanya bisa menggigit bibir mengerutkan
alis dan menurunkan lambaian tangannya tanda kesal.
“Yah..
tak apalah, lagi pula nanti mau ngomong apa kalau berhadapan dengannya”. Hati
Saad mencoba menghibur.
Waktu
Ashar tinggal lima belas menit lagi, Saad belum persiapan apapun. Ia pun
begegas mengendarai sepedanya menuju kost untuk mandi dan berganti pakaian.
Sesegera mungkin ia pergi ke masjid. Ternyata ia masbuk ketinggalan satu rakaat
shalat. Beruntunglah belum rukuk.
Usai
shalat, hati kecilnya berharap bisa bersua kembali dengan Lala. Namun, dihari
yang mulai menggelap ini mana mungkin seorang muslimah berkeliaran diwaktu
senja. Iapun kembali berdzikir.
Saad
seolah lupa dengan kegiatan kampus, ia tidak mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa
(UKM) satu pun, sebab ia takut beban orangtuanya bertambah. Mengingat jualannya
masih mengandalkan dari oranglain saja. Ia tak mau ambil pusing, yang ia
pikirkan adalah kuliah lancar, tugas terkumpul, dan pulang liburan membawa uang
untuk ibunya dikampung. Maklum, anak laki-laki suka gengsi jika pulang tak
membawa buah tangan.
Hari-
hari ia lalui tanpa melihat Lala kembali. Namun hatinya mantab, jika ia
berjodoh dengannya, pasti Allah akan tunjukkan jalan bagi hamba-Nya ini. Ia pun
berusaha meluruskan setiap niat ia mengunjungi Masjid. Semata-mata hanya untuk
beribadah. Bukan untuk ingin bertemu Lala, lantas membiarkan pandangan liar
begitu saja dengan ketidak halalan memandang.
Ia
akan komunikasikan hal ini dengan Tuhannya. Tak mau ada seorangpun yang mengetahui
tentang apa arti cinta dan kerinduan pada makhluk-Nya. Ia hanya ingin
melewatinya tanpa menjadi beban dihati apalagi dipikiran. Ia ingin terus
berusaha Shalat berjamaah di Masjid tepat waktu. Karena ia selalu mengingat
nasihat yang telah guru ngajinya sampaikan,
“Hal
yang pertamakali ditanyakan di Yaumil Akhir adalah Shalat. Jika Shalatnya
tuntas. Maka perkara-perkara yang lain in syaa Allah dimudahkan. Jika kita mau
Allah memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat kita, maka perbaikilah sholat
kita”. Selalu terbayang,
Ia
mulai menyibukkan dirinya dengan mengaji, belajar yang tekun untuk menggapai
semua citanya, menargetkan membaca buku disetiap harinya, dan terkadang ia
membuat resensi buku yang dia kira sangat penting dan asyik untuk dibuat
resensi sebelum dikembalikan ke Perpustakaan.
Urusan
dia berjodoh atau tidak dengannya, ia hanya menyerahkan semuanya pada Tuhan yang
berkuasa atas dirinya. Ia hanya memohon,
“Ya
Allah dari bermilyar-milyaran wanita di dunia ini, pilihkan satu saja yang
terbaik diantara yang terbaik untukku, yang shalihah. Penyejuk mata, penawar
hati, dan penajam pikiran, Aaamiin”.
Ia
pun teringat pepatah orangtuanya,
“Kalau
berdoa jangan tanggung-tanggung nak, karena Allah Maha Agung dan Maha Kaya,
Kamu harus yakin do’a yang kamu panjatkan itu akan terkabul. Meskipun kita
hamba yang derdosa, tapi ingatlah pintu Taubat dan pintu Rahmat Allah akan
senantiasa terbuka lebar bagi hamba-Nya hingga Yaumil Kiamat nanti. Jadi,
jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah ya nak. Berdo’alah, karena Allah
sangat senang bila hamba-Nya selalu memohon pada-Nya”.
Kekuatan
iman kini terhimpun, dan berdo’a agar Allah senantiasa mentawakkalkan dirinya,
dan menetapkan hatinya untuk selalu menggenggam erat Dinul Islam ditengah zaman
fitnah seperti sekarang ini. Ia tidak ingin dirinya larut dalam gemerlapnya
dunia yang menggiurkan. Hingga membuatnya lupa akan kewajiban dan tugas yang ia
emban sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada kedua orangtua. Seorang
murid yang harus takdzim kepada gurunya. Seorang teman yang mengingatkan teman
dan saudaranya. Seorang hamba pada Tuhannya. Dan tentunya, sebagai khalifah
dimuka bumi yang harus membawa perubahan kearah yang lebih baik.Allahu Akbar!!!
Oleh:
Siti Syarah Ulfa, 1164020158, KPI 3 D, dikutip dari beberapa sumber.
Komentar
Posting Komentar