Disleksia? Bahaya kah?


Disleksia? Bahaya kah?



Apakah anda pernah mendapati seorang anak yang sering tertukar dalam menuliskan atau menyebutkan huruf “b” dan “d” ? , ataukah anda pernah mendapati seseorang yang kesulitan menghitung tanpa mengotret meskipun dalam jumlah yang sederhana? Waspadai, bisa jadi itu indikasi dari disleksia.


Apa itu Disleksia?


Disleksia adalah suatu gangguan proses belajar, dimana seseorang mengalami kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi bagaimana kata-kata yang diucapkan harus diubah menjadi bentuk huruf dan kalimat dan sebaliknya.


Disleksia umum dijumpai pada anak anak usia tujuh sampai dengan delapan tahun. Namun begitu, kondisinya bisa saja dialami hingga seumur hidup. Akan tetapi, disleksia ini tidaklah memengaruhi dalam hal kecerdasan seseorang. Bisa terjadi pada orang dengan kecerdasan normal maupun diatas rata-rata. Menurut Badan Dislexia Internasional, disleksia terjadi setidaknya pada satu dari sepuluh orang.

Disleksia memengaruhi lebih dari 700 juta anak-anak dan orang dewasa di seluruh dunia.Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik, tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, dari kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi daam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan seperti uraian.


Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat gen atau bawaan keturunan dari orangtua. Ada dua tipe disleksia yaitu, developmental dyslexsia atau bawaan dari lahir dan aquired dyslexsia yang didapat karena perubahan cara otak kiri membaca. Gejala disleksia bervariasi dan umumnya tidak sama antara satu penderita dengan penderita yang lain. Karena itu, gangguan ini sulit dikenali terutama saat anak memasuki usia sekolah.


Pada balita, salah satu gejala yang dapat dikenali sebagai indikasi disleksia adalah perkembangan bicara yang lebih lamban dibandingkan anak-anak seusianya dan memerlukan waktu yang lama untuk belajar kata-kata baru atau sederhana. Pada anak-anak usia sekolah, gejala yang timbul diantaranya: pertama, kesulitan memahami apa yang ia dengar. Kedua, lamban dalam mempelajari nama dan bunyi abjad.

Ketiga, sering salah atau terlalu pelan dalam membaca. Keempat, lamban saat menulis misalnya saat didikte atau menyalin tulisan dan tulisan yang tidak rapi. Kelima, kesulitan mengeja, atau sering tertukar antara huruf “b” dengan “d”.


Pada usia remaja, gejalanya yaitu kesulitan membaca; kesulitan menyalin catatan atau sejenisnya; bermasalah dalam mengekspresikan sesuatu melalui tulisan atau meringkas suatu cerita; terkadang sering tidak memahami lelucon atau bahasa kiasan; kesulitan dalam mengatur waktu, misalnya tenggat waktu dalam pengumpulan tugas; kesulitan mengingat hal-hal yang berurutan, misalnya nomor telepon; cenderung menghindari kegiatan membaca dan menulis; dan yang terakhir kesulitan berhitung.


Apakah Disleksia dapat disembuhkan?


Disleksia memang tidak dapat disembuhkan, namun dengan kita mengetahui tanda-tanda yang telah disebutkan tadi, dapat membuat kita sedini mungkin untuk menanganinya, sehingga tidak memperparah kondisinya, atau bahkan terbawa hingga dewasa. Penanganan dini, terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan penderita, khususnya dalam membaca dan berhitung.


Diantara penanganan tersebut ialah pertama, mulai membacakan buku pada anak usia 6 bulan atau bahkan sebelum enam bulan. Kedua, bekerjasama dengan pihak sekolah. Ketiga, perbanyak waktu membaca dirumah. Keempat, membuat membaca menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan, misalnya dilakukan secara bertahap, mulai dari yang banyak gambarnya seperti komik, lalu berlanjut pada buku cerita atau legenda. Selanjutnya cerpen, buku-buku pelajaran, novel, buku-buku sejarah, dan lain sebagainya.


Karena perlu penanganan yang khusus, maka diperlukan kesabaran dan ketelatenan orangtua dan guru dalam menangani penderita. Bisa dengan belajar privat, atau mungkin meluangkan waktu lebih banyak untuk mengajari anak membaca dan berhitung akan lebih efektif dan baik bagi perkembangan psikologis anak. Selain itu, perlu adanya dukungan dari orang-orang terdekat. Seperti, kakaknya mengingatkan adiknya untuk membaca ketika waktu bermain telah habis. Selalu menyemangati penderita dan jangan membuat down.


Oleh: Siti Syarah Ulfa
Dikutip dari berbagai sumber




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rangkuman Eusi Buku Kasambet

Pengalaman Magang di TVRI Jabar dan Banten

DKM Manhajuth Thullab: Masyarakat Sekitar Kurang Partisipatif Terhadap Kajian Umum