Orangtuaku Inspirasiku
Orangtuaku Inspirasiku[1]
Oleh: Siti Syarah Ulfa[2]
Banyak sekali hal-hal yang menginspirasi bila saya melihat kepada kedua orangtua saya. Mungkin yang saya tulis ini hanyalah sebagian dari sekian banyaknya inspirasi yang mereka hadirkan untuk saya.
Namaku Siti Syarah Ulfa, aku terlahir dari seorang Ibu yang bernama Yati dan seorang Bapak yang bernama Muhammad Toha Hasanuddin. Saya merupakan anak ke-6 dari 7 bersaudara. Pangais Bungsu, itulah posisiku, itu adalah sebutan adat sunda kepada anak kedua terakhir sebelum bungsu.
Banyaknya saudara tentu berhadapan dengan perbedaan karakter, kebiasaan, kesukaan, dan keinginan. Diantara kemajemukan ini, kedua orangtuaku masih bisa mengatasinya. Terkadang kami merasa kalau kedua orangtua kami pilih kasih, namun karena kelembutan hati mereka dalam memberikan pengertian kepada masing-masing dari kami, sehingga membuat kami saling mengerti satu sama lain.
Kami dididik untuk selalu disiplin dalam waktu, rajin beribadah, toleransi atau saling menghargai, saling membantu dan tolong menolong, saling mengingatkan dalam kebaikan, mengatur keuangan dengan cermat, dan satu lagi, kami suka berniaga. Hanya saja, tergantung kecocokan masing-masing dari kami.
Orangtua kami menjadi contoh yang baik bagi kami, mulai dari ketaatan dalam beribadah, akhlaknya, hingga pemikirannya. Hingga aku pernah kebingungan untuk mengaplikasikan, “Laisal fatta man yakulu kana abi, walaa kinnal fatta man yakulu haa anaa daa”. Yakni, bukanlah seorang pemuda yang mengatakan inilah Bapakku, tapi seorang pemuda adalah dia yang mengatakan inilah aku (Orang yang akan menjadi hebat). Dikarenakan aku banyak melihat kelebihan yang dimiliki kedua orangtuaku yang sampai saat ini belum bisa aku kalahkan.
Dan sehebat apapun aku diluar rumah. Aku tetaplah anak yang selalu manja dihadapan kedua orangtuaku. Semua kehebatan itu aku tanggalkan dari pundakku saatku menginjakan kaki didepan pintu rumah kedua orangtuaku. Aku ingin seperti Bapak dan Ibu, dan sebenarnya aku ingin menjadi jauh lebih baik dari mereka. Aku ingin mengangkat harkat dan martabat mereka dihadapan Allah dan manusia. Aku ingin membahagiakan mereka, walaupun dengan cara yang sederhana, sebisaku.
Bapak dan Ibuku berlatar belakang Pendidikan SD. Namun mereka mampu menyekolahkanku hingga bangku kuliah ini. Mereka memang tak pernah membantu aku mengerjakan tugas-tugas yang sulit, namun mereka membuatku lebih semangat untuk menyelesaikan tugas-tugas sesulit apapun.
Bapak dan Ibuku biasa berangkat jam 3 dini hari untuk berdagang di Pasar Cigondewah Rahayu. Ibuku menjual bumbu dapur. Bapakku menjual plastik sambil keliling menagih uang karcis. Karena kebetulan pemilik pasar ini mempercayai Bapak untuk mengelola karcis untuk kemudian disetorkannya kepada pemilik pasar.
Pernah suatu ketika mereka sakit. Aku pernah berbicara kepada mereka agar istirahat untuk satu hari saja dari berdagang. Tetapi mereka bersikeras untuk tetap berdagang sekalipun tubuh mereka panas dingin, batuk-batuk, linu-linu, dan diterpa angina malam yang begitu menusuk. Bahkan tatkala hujan deras pun mereka tetap berangkat. Aku mengerti, mereka bukan tidak mendengarkan aku, tapi mereka ingin memenuhi tanggungjawab mereka terhadapku dan saudara-saudaraku yang lain.
Bapakku, beliau sangat bijaksana. Aku suka dengan pemikirannya yang integral dan didukung dengan pengalaman-pengalamannya saat aku berdiskusi dengannya. Terkadang beliau selalu membuat perumpamaan-perumpamaan agar aku mengerti maksudnya. Beliau juga selalu berbicara sesuai kadar pemahamanku. Sederhana, tapi membekas.
Ibuku, beliau sangat cermat dalam mengatur keuangan. Meskipun keuntungan yang didapat dari hasil penjualan bumbu dapur alakadarnya, beliau masih tetap bisa memaksimalkannya. Selalu ada lauk pauk ditengah krisis keuangan. Dan selalu ada uang saku untukku dan adikku yang sedang menempuh Pendidikan.
Kedua orangtuaku sangat humoris, membuat kami tertawa lepas. Nasihat-nasihatnya menentramkan hati kami yang gelisah, membukakan pikiran kami yang semrawut, tentunya atas izin Allah SWT. mereka selalu mendengar curhatanku yang meskipun tidak bermutu. Tetapi mereka tetap mendengarkannya, memberikan argumen-argumen yang logis dengan pemahamanku yang sangat terbatas, dan yang aku suka, mereka selalu berkata tegas kalau perilaku yang aku lakukan itu salah atau benarnya.
Sehingga saat perilakuku mereka anggap menyimpang, mereka selalu tegas menghentikannya, sehingga aku pun bisa belajar dari kesalahan. Dan tatkala perilakuku sudah benar, aku seperti mau mempertahankannya, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, aku merasa bahwa mereka adalah duniaku. Aku terkadang merasa cukup dengan mereka, sehingga aku betah dirumah.
Hingga aku pernah berkesimpulan bahwa, “Biarlah aku tidak pernah tahu seperti apa keindahan dunia yang sebenarnya. Karena senyuman dari kedua orangtuaku telah mewakilinya”. Maksudnya, aku tidak masalah orang berkata kalau aku kurang pergaulan. Bagiku, pergaulan secukupnya saja. Tidak berlebihan. Yang terpenting adalah baktiku atas perintah Tuhanku untuk berbakti kepada kedua orangtuaku.
Senyuman mereka membuatku bahagia. Dan kemarahan mereka, membuat dunia terasa sempit dan sesak. Tapi mereka selalu bilang kalau aku pun butuh dunia. Jika aku melepaskan dunia, bagaimana dengan cita-citaku untuk mengangkat harkat dan martabat mereka?. Aku butuh guru, aku juga butuh teman-teman katanya. Hal itu membuatku semakin bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberi aku kedua orangtua yang teladan untukku.
Selain dari itu semua, mereka mendidik kami untuk selalu menjunjung tinggi kejujuran, kesopanan dan pandai berbicara, bukan hanya berbicara santun, tetapi juga bernilai dakwah. Sehingga masing-masing dari kami tidak tertarik dengan profesi pengangguran berdakwah. Hal itu tentunya dengan cara kami masing-masing.
Saat aku membaca akhlak-akhlak Rosulullaah SAW, aku merasa hal itu tidak asing lagi, kedua orangtuaku telah mencerminkan dan memperlihatkan sebagian akhlak-akhlak mulia Rosulullaah SAW. dengan perilakunya, Sehingga seolah aku melihat ada diri Rosul pada diri kedua orangtuaku. Mereka pun mengenalkan kepadaku siapa Rosulullaah SAW. sehingga aku tidak pernah menjadi idola fanatik para artis. Dan sehingga, aku dan saudara-saudaraku hanya mengidolakan Rosulullaah SAW. dzurriyyatnya, para ulama, dan orang-orang yang sholih. In syaa Allah..
[1] [1] Untuk memenuhi tugas mandiri, Mata Kuliah Teknik Penulisan Naskah Dakwah Semester Ganjil Tahun Akademik 2018/2019.
[2] Mahasiswi Kelas KPI 5 D, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, e-mail: sitisyarahulfa@gmail.com
Komentar
Posting Komentar