Pengalaman Magang di TVRI Jabar dan Banten
MENJADI AUDIOMAN[1]
Oleh: Siti Syarah Ulfa[2]
Ini adalah pengalamanku ketika aku mengisi masa libur kuliahku dengan magang di salah satu stasiun televisi pemerintah di Jawa Barat. Tugas magang ini terbilang perdana bagi mahasiswa semester 4. Sebab, biasanya jurusan memberikan tugas untuk magang pada mahasiswa semester 6.
Terpilihlah TVRI Jawa Barat yang berlokasi di Jl. Raya Cibaduyut 269 sebagai tempat magangku. Lokasinya lumayan tidak terlalu jauh dari rumahku, sehingga aku tidak perlu repot-repot untuk mencari kosan untuk beristirahat.
Awalnya saya sempat bingung, bagaimana ya magang di televisi? Lalu cara daftar jadi peserta magangnya bagaimana?. Untuk menghilangkan semua kebingungan, mulailah saya bertanya kepada kakak ipar saya yang mempunyai kakak yang memang bekerja disana. Tak cukup sampai disitu, saya pun mencoba berselancar di dunia maya, mengikuti akun-akun TVRI Jawa Barat, baca-baca website TVRI Jabar, tapi sayangnya website nya tidak begitu banyak kegiatan yang diposting apalagi tentang magang, lalu aku melihat review-review anak-anak magang yang dulu pernah magang di TVRI Jabar, hingga aku menemukan seseorang yang bisa aku ajak berbincang di inbox facebook tentang cara masuk magang ke TVRI Jabar.
Keesokan harinya berangkatlah saya bersama satu orang teman saya, Tiara. Ke lokasi tempat TVRI Jabar berada. Kita bertanya kepada satpam ke Gedung mana dan kepada siapa kami mendaftar magang. Lalu satpam tersebut menjelaskan kepada kami, bahwa kami harus menemui Pak Asep Suhada di Gedung yang berdiri didepan masjid.
Saat kami menemui Pak Asep, ternyata beliau bilang, peserta magang telah melampaui kapasitas untuk bulan Juli 2018. Awalnya kami agak down dan sedikit kecewa, tapi saya memberanikan diri untuk sedikit memaksa kepada Pak Asep, dikarenakan waktu yang tidak memungkinkan kami untuk mencari Stasiun Televisi lagi. Dikarenakan menurut survei salah seorang teman dikelas kami berbicara bahwa pada rentang bulang Juli-Agustus semua Stasiun televisi di Bandung juga telah melampaui kapasitas penerimaan siswa dan mahasiswa magang. Bukan hanya dari UIN saja, tetapi juga bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa dari universitas lain di seluruh Indonesia. Bahkan teman magangku sendiri ada yang jauh-jauh datang dari Jogja datang ke Bandung hanya untuk magang di salah satu televisi yang ada di Bandung. Dan akhirnya Pak Asep pun menyuruh kita untuk menemui Pak Penta sebagai produser TVRI Jabar.
Tibalah kami di ruangan Pak Penta. Sebelum kami diterima menjadi peserta magang. Terlebih dahulu kami dikenalkan dengan anak-anak magang dari universitas lain yang terkumpul dalam satu ruangan. Kami disuruh untuk memperkenalkan diri, berjalan dihadapan mereka, disuruh duduk untuk adaptasi dengan atmosfer kesibukan anak-anak magang dan ketua peserta magang yang mencoba menciutkan kami dengan kata-kata tidak pantas. Tapi ya, kami anggap ini tantangan, dan sebuah tantangan pasti akan berakhir dengan sendirinya jika kami menghadapinya dengan tidak terlalu memasukannya kedalam hati atas hal-hal buruk yang menimp kami diruangan itu. Lagi pula, kami melihat peserta lain sangat menerima kehadiran kami. Dan setelah itu, kami pun ditanya sanggup tidaknya magang disini oleh Pak Penta, lalu kami pun menyanggupinya. Dan dibagian Program lah kami magang.
Awal pertama magang, saya sempat bingung dengan job desk saya, saya kerja apa dan Bersama siapa saja. Untungnya anak-anak magang yang lain (yang sudah lama) menjelaskan tentang program yang sedang di garap. Dan akhirnya aku pun menjadi notulen presentasi.
Sekitar dua minggu, akhirnya program pertama rampung, dan masih ada 5 program lagi yang harus kami selesaikan. Satu persatu dari peserta magang telah menyelesaikan magangnya. Hingga berkuranglah kapasitas SDM dibagian Program. Sehingga job desk dari setiap peserta yang tersisa, merangkap.
Program kedua dan ketiga akhirnya rampung dalam dua minggu juga. Dan tinggal 3 program lagi yang mengharuskan kami syuting diluar lingkungan TVRI Jabar untuk menyelesaikannya. Tiga program tersebut diantaranya, program Kampus, program Pariwisata, dan program Kuliner. Program Kampus rampung dalam dua minggu, dan di program ini aku mendapat job desk dibagian proposal dan konsep.
Untuk dua program selanjutnya, yakni, kuliner dan pariwisata, lumayan memakan waktu yang sanga lama, sehingga waktu magang kami (mahasiswa UINSGD) yang semula dikontrak untuk satu bulan, dipaksa produser untuk dua bulan magang sampai program-program tersebut rampung dan setelah itu baru kami boleh mendapatkan surat tanda magang dan bebas. Awalnya kami berontak, tapi kami juga tidak tega meninggalkan begitu saja teman-teman angkatan kami yang tidak akan lulus magang kalau program belum rampung semua. Oke. Beruntung waktu libur kuliahku masih tersisa satu bulan lagi.
Untuk program terakhir ini kami membagi dua kelompok. Aku dan tiga teman UIN-ku masuk ke program pariwisata. Alhamdulillaaaah… serasa Bersama saudara yang tidak ingin terpisahkan. Kami syuting di satu daerah yang sama yakni di Pangalengan. Hanya saja berbeda lokasi. Sewaktu syuting di Pangalengan, biaya hidup kami difasilitasi oleh yang empunya Pabrik KPBS, yakni Pak Haji Aun, mulai dari sewa hotel, hingga makan pagi dan sore.
Di program Pariwisata, saya mendapat job desk sebagai Audioman. Yang mana tugasku adalah merekam suara host dan wawancara host dengan narasumber, mengganti nama audio yang sudah direkam, mem-backup audio, menyortir audio, hingga mengedit audio seperti: memotong, menambahkan atmosfer, mencari backsound yang sesuai, dan menyingkronkan antara audio dengan video.
Di Pangalengan, kami memilih 4 lokasi syuting untuk program Pariwisata. Yaitu, Rest Area KPBS, Sunrise Hill Cukul, Peternakan Sapi dan Kampung Adat Cikondang.
Untuk setiap kali syuting, saya harus prepare handphone, mic, dan earphone setiap saat. Saya pun harus segera menamai rekaman agar tidak menyulitkan editor nantinya. Dengan segala keterbatasan alat kami mencoba untuk memaksimalkan syuting kami agar hasilnya bagus. Karena alatnya terbatas, hal itu mengharuskan kami mengubah konsep syuting disesuaikan dengan alat, untuk meminimalkan terjadinya kesalahan.
Untuk ketiga lokasi pertama, yakni, Rest Area KPBS, Sunrise Hill Cukul, dan Peternakan Sapi, lancar dengan perulangan pengambilan video shoot yang masih terbilang wajar. Sebab selain host nya yang sedikit gugup, juga konsep yang berubah-ubah, namun akhirnya selesai juga dan juga lumayan banyak mendapatkan video track untuk mengisi footage-footage.
Namun, pada saat syuting di Kampung Adat Cikondang, awalnya berjalan mulus, tapi pas pem-backup an video, semuanya tidak terbaca. Dan akhirnya kami pun harus retake kembali (shooting kembali) namun ditempat yang berbeda, yakni di PLTA Lamajan. Hal itu dikarenakan salah satu teman kami ada yang indigo dan dia merasakan tidak adanya kenyamanan saat syuting di kampung adat cikondang, sedangkan teman kami tersebut berperan penting dalam syuting kami, yakni sebagai campers. Dan memang daerah ini terkenal sangat mistis dan banyak peraturan yang mesti kita patuhi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
[1] Untuk memenuhi tugas mandiri, Mata Kuliah Teknik Penulisan Naskah Dakwah Semester Ganjil Tahun Akademik 2018/2019.
[2] Mahasiswi Kelas KPI 5 D, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, e-mail: sitisyarahulfa@gmail.com
Kak boleh minta kontaknya untuk menanyakan seputar magang di tvri jabar?
BalasHapusKak kaka minat magang ke tvri jabar? Aku juga kak
HapusApakah di statsiun tv tersebut anak magang mendapar bayaran kak?
BalasHapusKak boleh minta kontak yang bisa dihubungin? Saya mau nanya seputar magang
BalasHapusAssalamualaikum kak, 🙏 saya mau magang juga di TVRI Cibaduyut, untuk persyaratan masuk kesana kakak waktu itu lamaran magang nya apa saja kak.
BalasHapus